Apa Itu Thariqah Alawiyah dan Perannya dalam Moderasi Islam di Indonesia?
Di tengah beragamnya paham keislaman, seringkali kita kehilangan jejak akar spiritual yang membentuk wajah Islam di Nusantara. Salah satu benang emas yang vital adalah Thariqah Alawiyah. Banyak yang mungkin pernah mendengar namanya, namun tidak sedikit yang bertanya-tanya, apa sebenarnya ajaran inti tarekat ini dan bagaimana peranannya hingga bisa menyatu dengan denyut nadi keislaman di Indonesia?
Kekurangpahaman ini bukan sekadar soal lupa sejarah, melainkan berisiko membuat kita tercerabut dari salah satu sumber mata air Islam Wasathiyah (moderat) yang telah teruji zaman. Kita bisa kehilangan referensi otentik tentang bagaimana spiritualitas tasawuf mampu menjadi fondasi pendidikan modern, harmoni sosial, dan bahkan memengaruhi lahirnya organisasi besar di negeri ini.
Untuk menjawabnya, mari kita menarik hikmah dari seminar yang pernah dihelat oleh Al Ghanna Islamic Education bersama Islamic and Middle Eastern Research Center (IMERC) Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) UI pada 4 Desember 2018. Forum bertajuk “Ajaran Wasatiyah dalam Thariqah Alawiyah dan Perannya di Indonesia” ini menghadirkan Habib Hamid Ja’far Al Qadri dan Dr. Nur Munir, M.A., yang mengupas tuntas warisan berharga ini.
Mengenal Pendiri dan Akar Sejarah Thariqah Alawiyah
Habib Hamid Ja’far Al Qadri, pengasuh Al Ghanna Islamic Education, menjelaskan bahwa Thariqah Alawiyah, atau dikenal juga sebagai Thariqah Bani Alawi, merupakan jalan spiritual kaum sufi yang didirikan oleh seorang wali agung, Imam Al-Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawi. Beliau hidup antara tahun 574 H hingga 653 H (sekitar 1178 M – 1232 M) di Tarim, Hadramaut, Yaman.
Tarekat ini bukanlah aliran baru yang terpisah, melainkan sebuah metode (thariqah) untuk mengamalkan ajaran Islam secara kaffah (menyeluruh) dengan penekanan pada penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Esensinya adalah mengikuti jejak Rasulullah SAW dan para salafus shalih dengan cara sistematis untuk mencapai kedekatan sejati dengan Allah SWT.
Tiga Pilar Utama Ajaran Thariqah Alawiyah
Habib Hamid menguraikan bahwa kekuatan ajaran Wasathiyah dalam Thariqah Alawiyah bertumpu pada tiga pilar utama yang saling mengikat. Ketiga pilar ini membentuk karakter pengamal tarekat yang seimbang antara syariat, hakikat, dan akhlak mulia.
1. Ittibâ’ (Mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah)
Pilar pertama dan utama adalah ittibâ’, yaitu komitmen total untuk mengikuti apa yang tertera dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Ajaran ini menekankan bahwa setiap amalan spiritual, dzikir, dan perilaku harus memiliki landasan yang jelas dari sumber primer Islam, menjauhkan para pengikutnya dari praktik-praktik yang tidak berdasar atau ekstrem.
2. Shidqul Iftiqâr (Merasa Butuh Sepenuhnya kepada Allah)
Pilar kedua adalah merasakan dengan sebenar-benarnya kebutuhan mutlak seorang hamba kepada Allah (iftiqâr). Ini adalah sikap batin yang menumbuhkan kerendahan hati dan membuang jauh sifat sombong, ujub, atau merasa diri lebih baik. Seorang salik (penempuh jalan spiritual) Alawiyah dididik untuk selalu merasa fakir di hadapan Allah.
3. Syuhûdul Minnah (Menyaksikan Segala Sesuatu sebagai Karunia Allah)
Pilar ketiga adalah kemampuan untuk menyaksikan bahwa segala sesuatu, baik nikmat maupun ujian, adalah karunia murni dari Allah. Sikap batin ini melahirkan rasa syukur yang luar biasa dalam setiap keadaan dan melihat hikmah serta kasih sayang Allah di balik setiap kesulitan yang dihadapi.
Jejak Emas Thariqah Alawiyah di Nusantara
Dr. Nur Munir, selaku Ketua IMERC SKSG UI saat itu, menekankan pentingnya penelitian lebih lanjut mengenai kontribusi Thariqah Alawiyah karena perannya yang sangat signifikan dalam moderasi Islam di Indonesia. Berikut beberapa jejak nyata tersebut:
Kontribusi di Bidang Pendidikan
Kontribusi paling monumental adalah berdirinya Jamiatul Kheir pada 1901 di Batavia, organisasi pendidikan Islam modern pertama di Indonesia. Selain itu, ada pula Al-Khairat di Palu, Sulawesi Tengah, yang didirikan oleh Habib Idrus bin Salim Al-Jufri, yang menjadi mercusuar ilmu di kawasan timur Indonesia. Tradisi pengajaran tarekat ini juga memengaruhi metode di banyak pesantren salaf.
Kontribusi di Bidang Sosial dan Budaya
Banyak tokoh pendiri dan ulama berpengaruh di Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang memiliki sanad keilmuan atau interaksi erat dengan para habaib pembawa tarekat ini. Di bidang literasi, mereka menerbitkan karya sastra dan media massa seperti koran “Hadramaut” dan Majalah “Borobudur” untuk mencerahkan umat.
Sikap Terhadap Politik
Salah satu poin penting yang digarisbawahi adalah bahwa Thariqah Alawiyah pada dasarnya bukanlah gerakan politik. “Thariqah ini cenderung menjauhi politik praktis,” tegas Habib Hamid. Fokus utamanya adalah perbaikan akhlak individu dan masyarakat melalui pendidikan dan dakwah. Keterlibatan tokohnya dalam politik lebih merupakan pilihan pribadi, bukan prinsip dasar tarekat.
Tanya Jawab Seputar Thariqah Alawiyah
Berikut adalah rangkuman tanya jawab seputar tarekat ini:
- Siapakah pendiri Thariqah Alawiyah?
- Thariqah Alawiyah didirikan oleh Imam Al-Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawi (574 H-653 H) dari Tarim, Hadramaut, Yaman.
- Apa saja tiga ajaran inti dari Thariqah Alawiyah?
- Tiga pilar utamanya adalah: 1) Ittibâ’ (mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah), 2) Shidqul Iftiqâr (merasa butuh total kepada Allah), dan 3) Syuhûdul Minnah (memandang segalanya sebagai karunia Allah).
- Bagaimana pandangan Thariqah Alawiyah terhadap politik?
- Pada dasarnya, tarekat ini fokus pada spiritualitas, pendidikan, dan dakwah, serta cenderung menjauhi politik praktis. Keterlibatan dalam politik dianggap pilihan personal, bukan ajaran dasar.
- Apa bukti kontribusi Thariqah Alawiyah di Indonesia?
- Buktinya antara lain pendirian lembaga pendidikan perintis seperti Jamiatul Kheir (Jakarta) dan Al-Khairat (Palu), serta pengaruh spiritual dan keilmuan pada tokoh-tokoh awal organisasi Islam besar.